Ada Apa dengan Tempat Ini?

Hari ini sinar matahari nampak semburat mewarnai langit yang cerah bak menyambut semangat baru. Bulan Agustus atau September biasanya menjadi bulan yang menjadi awal mahasiswa baru memasuki masa orientasi kampus. Saya jadi teringat pada saat awal menjadi mahasiswa dulu dimana sangat senang karena diterima di sebuah Universitas Negeri yang terkenal dengan jurusan Kedokterannya di Surabaya. 

Saya saat itu diterima masuk di jurusan D3 kesehatan tapi tidak satu lokasi dengan kampus kedokteran. Walaupun saya bukan jurusan kedokteran, tapi karena masih satu rumpun kesehatan ternyata ada saat nantinya saya juga mencicipi kuliah di ruang kelas kedokteran. 

pelajaran dari kost

Sayangnya kegembiraan saya karena diterima ternyata tidak berlangsung lama, walaupun diterima di kampus jurusan cukup yang banyak diincar calon mahasiswa ternyata ada beberapa hal yang saat itu membuat saya cukup menjadi baper. 

Pertama masuk tentunya ada acara orientasi kampus yang menurut saya saat itu gak banyak gunanya selain cuma untuk melanggengkan tradisi senioritas. Banyak hal dalam kegiatan tersebut yang saya rasa tidak mendidik yang tetap harus saya ikuti. Untungnya masa itu sudah lewat, kabarnya sekarang tradisi ospek atau semacamnya sekarang menjadi lebih bermutu dan bermartabat.

Selain kegiatan Ospek diawal menjadi mahasiswa, saya juga cukup syok dengan perbedaan kondisi lingkungan saya tinggal dimana saat itu nge-kost dengan tempat awal saya tinggal. Awalnya saya cuma merasa sedang mengalami homesick alias kangen rumah atau bahasa kerennya "mbok-mbok en". 

Memang diawal mungkin gejalanya sama yaitu pengen pulang gak tahan ditempat baru. Kemudian menyalahkan hawa yang cenderung lebih panas, aroma air kotor dimana-mana, bahkan aroma kupang busuk yang tercium semerbak seperti sampai meresap masuk ke pakaian dalam. Tapi ternyata ada hal yang cukup kuat menjadi alasan bahwa saya bukan mengalami homesick. 

Hal tersebut salah satunya terjadi ketika saya setiap kali ketemu kakak-kakak tingkat, walaupun di jurusan yang berbeda dan lokasi kampus berbeda setiap kali saya ditanya perihal tinggal di kosan mana? ketika saya memberi jawaban jujur mereka langsung paham lokasinya. Seakan-akan kosan saya itu sudah cukup terkenal. Awalnya saya mungkin bangga, tapi setelah berkali-kali demikian dengan kakak yang lain dan respon mereka rata-rata menampilkan mimik yang aneh, membuat saya mulai penasaran ada apa dengan tempat kost yang saya tinggali. 

Selain itu teman-teman kuliah terutama yang cewek-cewek mereka sama sekali gak mau masuk ke area kost. Bahkan kalau ada perlu maka mereka rela menunggu diluar pagar kost tanpa mau masuk ke halaman. Heran..

Hingga suatu ketika saya pernah main ke tempat kost lain yang ditinggali teman saya satu kampus, kebetulan ada Ibu kostnya yang sedang menyapu kemudian menegur saya. Seperti pada umumnya awalnya Ibu kost tersebut bertanya dimana saya tinggal, kemudian setelah saya jawab Ibu kost tersebut kemudian berpesan agar saya harus tahan kalau ingin tetap tinggal di tempat kost saya dan menitip pesan untuk Ibu kost saya yang tidak pernah saya sampaikan hingga saat ini.

Saya menyadari apa yang disampaikan oleh ibu Kost teman saya tersebut memang tidak salah. Saya rasa penilaian mereka itu dapat menjawab rasa penasaran saya sebelumnya. Tapi hal itu membuat saya jadi tambah tidak nyaman.

Setelah beberapa lama saya mencoba bertahan ternyata setelah akhir semester pertama saya ingin sekali pindah kost. Disaat itu saya memutuskan untuk mencari tempat lain yang lebih baik dan kalau bisa tetap murah. Setelah beberapa kali mencari, pada akhirnya saya menemukan tempat yang saya anggap sesuai dengan kriteria saya saat itu. Saat akan benar-benar pindah ternyata ada sebuah kejadian yang membuat saya banyak pertimbangan. 

Saat itu teman sekamar kost saya memberi tahu kalau salah satu teman kost yang lain ada yang mendapat musibah. Memang saya menempati kamar kost yang diisi minimal dua orang, sedangkan ingin tempat kost baru yang hanya seorang satu kamar. Tapi itu bukan alasan utama saya ingin pindah kost.

Saya dan teman sekamar saya langsung menghapiri kamar tempat teman yang mengalami musibah. Ternyata disana sudah berkumpul banyak teman kost saya yang lain. Saya lihat teman yang mengalami musibah itu duduk tertunduk dan menangis padahal dia seorang cowok, saya tanya apa yang terjadi?. Teman saya yang lain menjawab kalau dia baru kehilangan uang saku dan bekal yang diberikan orang tuanya untuk ngekost. Mendengar jawaban tersebut lalu saya bertanya lagi ceritanya bagaimana kok bisa hilang?

Teman saya yang lain menjawab ceritanya dia berangkat ke Surabaya dari tempat asalnya yaitu kota K dengan mengendarai kereta api. Diperjalanan dia meletakkan bekal yang berupa beras yang dibungkus tas kresek  dan uang saku Rp.5000 didalamnya untuk pulang minggu depan dibawah kursi. Saat dalam perjalanan teman saya itu tertidur hingga terbangun ketika sudah sampai di stasiun tujuan. Ketika akan turun dia mencari bekalnya dan ternyata sudah tidak ada. Dia berjalan kaki untuk sampai di kost, padahal jarak stasiun kereta hingga kost tidak kurang dari 15 km.

Saat itu semua teman lain yang mendengar cerita teman saya ini langsung memberi sumbangan untuk bekal sehari-hari dan untuk ongkos pulang minggu depan. Lalu mereka berangsur kembali balik kekamar mereka masing-masing. Saat itu saya masih bertahan karena saya merasa masih ada yang janggal dengan cerita teman saya tersebut.

Saya kemudian bertanya pada teman saya itu :

apakah sampeyan cuma dibekali dengan beras saja untuk bertahan selama seminggu? 

Ternyata diluar dugaan teman saya tersebut menjawab iya, dia memang berbekal beras yang nanti akan dimasak. Untuk memasak memang ada dapur sederhana yang disediakan ibu kost. 

Trus pertanyaan saya berlanjut:

Lalu lauknya apa?

Kalau ada kerupuk ya kerupuk tapi kalau gak ada pakai garam

Saya langsung diam, jaman saya sudah kuliah masih ada yang makan cuma pakai nasi dan garam.

Saya lanjut bertanya Kenapa setiap minggu harus pulang?

Iya untuk membantu orang tua dirumah

Dari pengalaman tersebut, saya kemudian hari berikutnya memantau bagaimana kondisi teman-teman kost tersebut dan yang lain. Apakah memang keseharian mereka demikian atau memang cuma cerita saja agar teman lain iba dan membantunya. Ternyata teman kost saya tidak hanya seorang yang kondisinya mirip. Walaupun rata-rata lebih baik tapi tidak banyak.

Setelah melihat banyak teman yang mungkin kurang beruntung dari saya, maka saya menjadi merasa gak terlalu masalah dengan apa yang dikatakan orang diluar kost. Walaupun memang pada kenyataannya kost saya memang sebanding antara harga dengan fasilitas. Tempat kost tersebut ternyata memberi saya pelajaran diluar bangku kuliah.

Alhasil, saya gak jadi pindah bahkan sampai lulus.

Inspirasi dari Game Yang Masih Teringat Serunya

Salam Merdeka

Hari ini posting bertepatan dengan hari kemerdekaan Indonesia. Jadi harus selalu semangat.

Inspirasi seringkali muncul tiba-tiba, kadang disaat merenung sendirian, saat beraktifitas atau bahkan dari memperhatikan kejadian disekitar kita. Seringkali ide muncul akibat pengamatan pada sesuatu yang sering dianggap biasa saja oleh orang lain, maka kita harus siap menangkap momen yang menarik kapanpun. 

Beberapa hari kemarin saya jadi teringat sesuatu. Diantara sekian banyak game santai yang pernah saya mainkan, ada sebuah game yang membuat saya menjadi terinspirasi membuatnya dalam versi saya sendiri. Walaupun saya ingin membuat game dengan alur permainan yang hampir sama tapi ada bagian yang saya pengen membuatnya menjadi berbeda.

Sebelum membuat tambahan yang membedakan game buatan saya dengan game yang menginspirasi saya tersebut, maka sudah pasti saya mesti menyusun konsep dengan mengingat kembali bagaimana bagian-bagian game yang seru untuk dimainkan tersebut.

Game inspirasi tersebut sebenarnya dulu saya temukan di playstore sekitar tahun 2019. Sayangnya sepertinya saya sudah lupa judulnya, sehingga ketika saat ini saya mencarinya lagi ternyata game tersebut sudah tidak lagi dapat saya temukan.

Karena saya ingin memainkannya lagi tapi tidak berhasil menemukannya, maka saya bersemangat untuk membuatnya sendiri berdasarkan ingatan yang mungkin tidak sama persis. Untuk membuatnya, saya kembali menggunakan Construct 2.

Saya memilih Construct 2 dengan alasan agar tidak banyak menulis kode karena sambil banyak mengingat. Saya tidak ingin perhatian saya terdistorsi atau bahkan hilang akibat hanya fokus menulis kode programnya daripada mengingat konsepnya.

Game yang saya mainkan dulu menceritakan sebuah pesawat terbang yang harus menghindari banyak missile musuh yang mengejarnya. Pesawat harus dapat menyelesaikan misi yaitu mengumpulkan bintang sebelum waktu habis.

Pada game tersebut pemain hanya dapat bergerak ke kanan dan kekiri yang membuat pesawat harus begerak memutar untuk menghindari missile yang mengejarnya. Jadi banyak missile musuh akan bergerak menuju pesawat pemain. Pada game yang dulu saya mainkan, pesawat sebagai aktor utama game tersebut tampak dari sudut pandang langit. 

membuat game sendiri dari ingatan main game lain

Dalam memory yang masih saya ingat kurang lebih game akan seperti gambar diatas. Missile yang gagal mengenai pemain akan terus terbang atau meledak dikejauhan.

Semoga saya dapat mewujudkan game dalam bayangan saya. 

Apakah Memang Rumput Tetangga Lebih Hijau?

Minggu kemarin saya merasa lebih sibuk dari biasanya, sebab ada beberapa urusan administrasi yang mengharuskan saya sampai bolak-balik keluar kota. Saya memang menyadari kalau memang niat membereskan suatu masalah maka butuh waktu dan dana yang harus dikorbankan. 

Syukurlah semua urusan itu sekarang sudah selesai, walau memang cukup menyita energi namun dilain sisi ada beberapa hal yang menurut saya penting untuk saya catat.

Dalam beberapa kesempatan disela kesibukan saya sering belajar dari orang-orang yang sukses bagaimana sikap mereka dalam mengatasi masalah mereka yang tentu saja akan selalu ada. Siapa bilang orang sukes itu tidak menemukan masalah yang berarti dalam meniti jalan kesuksesannya, menurut pengamatan saya malah sebaliknya. Mereka sukses akibat sudah menyelesaikan masalah besar yang tidak dapat diselesaikan oleh orang umumnya atau bahkan yang orang lain hindari.

Dari perjalanan beberapa orang sukses yang saya coba pelajari, ternyata banyak masalah yang mereka hadapi dan bahkan gak sedikit yang level kegawatannya diatas rata-rata kebanyakan orang dapati. Uniknya mereka dapat menyelesaikannya dengan baik artinya mereka mampu mengatasinya. 

Dalam mengatasi masalah mereka mereka mungkin pernah mengalami gangguan kestabilan emosi, tapi itu sebentar saja artinya tetap boleh terjadi tapi gak terus-terusan dan mereka segera fokus pada solusi agar dapat menyelesaikan inti masalah mereka. Tapi apabila masalah tersebut belum dapat mereka selesaikan mereka tidak melakukan tindakan negatif dengan mencari pelarian atau seperti shortcut, emosional ataupun menyalahkan yang lain. Kalau belum bisa menyelesaikan, mereka ternyata memilih diam.

Diamnya mereka adalah menahan diri tidak melakukan tindakan ataupun pernyataan yang bisa memperburuk keadaan. Mereka tetap mencoba mencari solusi dengan terus meminta bantuan dari pemilik segala solusi yaitu Tuhan.

bahagiakan diri sendiri


Nah ketika solusi sudah mereka dapatkan dan terbukti dapat menyelesaikan masalah mereka, ternyata mereka tidak berhenti sampai disitu saja. Mereka mencatat, memperbaiki, memoles cara solutif mereka agar lebih baik lagi dan lagi. 

Ternyata masalah itu tetap saja datang tapi karena mereka sudah punya solusinya maka mereka dapat lebih nyaman mengatasinya. Semakin efisien dan efektifnya solusi mereka terhadap suatu masalah maka masalah tersebut tidak memberatkan lagi bagi mereka, kemudian baru mereka tawarkan untuk membantu orang lain yang mendapati masalah yang sama.

Uniknya, tidak semua orang mau menggunakan solusi yang telah teruji dari orang-orang sukses tersebut. Ada saja yang menganggap diri mereka lebih baik tanpa menggunakan solusi yang ditawarkan orang-orang sukses tersebut. Menurut saya sebenarnya gak salah juga, asalkan tidak menyombongkan diri atau merendahkan solusi orang yang lebih dulu berhasil.

Dan respon orang-orang sukses yang solusinya ditolak orang lain ternyata merupakan rahasia kenapa mereka tetap heppy saja dalam menghadapi penolakan. Respon mereka sebernarnya sederhana saja yaitu adalah gak peduli alias gak ambil pusing, karena mereka mau bantu tapi yang dibantu gak mau berarti ya sudah. 

Kalau suatu solusi ataupun karya tidak disukai orang lain maka bagi orang sukses hal itu tidak masalah mereka akan tetap menyukai karya mereka sendiri,  sebab karya itu bermanfaat bagi mereka sendiri. Urusan orang lain tidak sama dengan mereka ya silahkan saja.

Jadi inti dari pemikiran orang-orang sukses yang dapat saya tarik adalah "bahagikan saja diri sendiri dulu kalau sudah bisa bahagia baru bahagiakan orang lain". Pernyataan ini sangat masuk akal sebab gak mungkin orang dapat membawa orang lain bahagia apabila dirinya sendiri tidak bahagia. 

Semoga selalu berbahagia

Belajar Dari Mahluk Tak Kasat Mata

Sinar matahari cerah keemasan semburat di langit biru menyambut kita di hari ini, Syukur kepada Tuhan semoga anggota keluarga semua sehat demikian juga pembaca blog ini. 

Disaat era informasi ini..

Setiap orang tentu boleh punya pendapat sendiri, sebab biasanya seseorang akan punya sudut pandang berdasarkan latar belakang masing-masing. Sebagaimana foto yang tampak dari satu angle sangat menarik tapi bila dilihat dari sudut lainnya ternyata tidak mesti demikian. Semakin kita pandai memperluas sudut pandang, kita dapat semakin bijak dalam menakar sesuatu.

Disela kesibukan mewujudkan ide-ide yang terngiang dalam kepala, beberapa minggu terakhir ini saya sedang tertarik mengulik informasi seorang penulis cerita horor yang berdasarkan pengalaman nyata yang dia alami bersama teman-teman "huntunya" iya gak boleh disebut hantu. Anda tentu paham siapa yang saya maksud apalagi bila anda adalah seorang pembaca novel horor yang karyanya banyak diangkat menjadi film layar lebar. 

Iya penulis tersebut adalah Risa Saraswati.

Walaupun lebih muda dari saya, namun rupanya banyak pengalamannya yang harus saya catat. Banyak yang dapat saya ambil sebagai pelajaran dari pengalaman hidupnya hingga menorehkan karya-karyanya, sehingga membuat saya menjadi tertarik mengulik lebih jauh. 

teman risa peter cs
Coba tebak Risa yang mana? 
(maaf kalau gambar ini saya pakai disini)

Salah satunya tentang hal pertemanan. Berteman dengan manusia hidup saja menurut saya sudah susah,  apalagi bagaimana dengan sosok-sosok yang tak kasat mata itu. Namun, entah kenapa saya senang dengan orang-orang unik yang pandai menghargai hal yang dianggap aneh atau remeh (gak guna) bahkan bagi orang normal harus dijauhi.

Maksud saya bukan kita harus berteman dengan mahluk halus, tapi yang menarik bagi saya yaitu sang penulis berhasil menaklukkan ketakutannya sehingga malah akrab dan berteman dengan mereka.

Walaupun memang awalnya dia tidak sadar kalau teman-temannya yaitu Peter Cs adalah bukan manusia "lagi". Namun pada beberapa teman lain contohnya seperti Asih, Elizabeth, Ivanna atau lainnya yang tentu akan membuat urat keberanian orang biasa akan menyusut bahkan bisa menguap habis tak tersisa, tentu itu bukan hal yang mudah buat berteman apalagi sampai membuat karya tentang mereka.

Banyak hal yang mungkin gak sesuai dengan yang kita harapkan, oleh sebab itu diperlukan rasa toleransi yang tinggi tapi juga tidak larut sehingga malah menjadi toksik.  Dibalik cerita masing-masing karakter tersebut, banyak hal juga yang saya belajar dari teman-teman Risa tersebut yang notabene gak bisa dilihat mata biasa. 

Mungkin benar bahwa kita tidak boleh percaya pada Jin atau mahluk lain sepenuhnya, bahkan kalau boleh jujur dengan sesama manusia pun kita juga harus tetap hati-hati. Tapi ada suatu pelajaran bagi saya dimana banyak hal yang tidak lagi bisa mereka lakukan ketika sudah mati. 

Walaupun mereka masih dapat melakukan sesuatu yang melebihi kita manusia hidup tetapi kemampuan mereka tidak dapat menolong mereka sehingga menjadi lebih baik. 

Jadi bagaimanapun susahnya hidup, semoga kita selalu ingat bahwa kita cuma lakon yang harus menyelesaikan "cerita" dengan bahagia. Sehingga kita musti syukuri nikmat Tuhan dan jangan pernah berputus asa.

Semoga semua yang membaca tulisan ini atau karya-karya Risa atau nonton channel Jurnal Risa dapat mengambil hikmah yang baik mumpung kita masih hidup. 

Mungkin ini sudut pandang yang dapat saya tuliskan, walaupun masih banyak nilai lainnya yang dapat saya ambil dari seorang Risa bersama Tim Jurnal Risanya tidak saya tulis disini. Salut buat mereka..

Anda juga boleh punya sudut pandang sendiri, silahkan ditulis dikolom komentar bila berkenan.

Pengalaman Lucu Saat Memanfaatkan Google Translate

Google Translate memberi pengalaman dan wawasan baru kepada saya bahwa saat terdesak kita sebenarnya bisa survive dengan cara apapun yang mungkin kadang terlihat sepele. Dulu saya memang kurang perhatian dengan layanan Google yang satu ini, tetapi setelah mendapat suatu pengalaman yang bisa dibilang agak konyol sehingga membuat saya jadi mengubah pandangan terhadapnya.

Google translate adalah suatu layanan google untuk menterjemahkan suatu kata atau kalimat dari bahasa tertentu ke bahasa lainnya. Maka tidak heran apabila aplikasi ini baru akan terasa ada gunanya apabila kita berada dikondisi harus memahami bahasa lain segera.

Sebenarnya kalau bisa saya sebenarnya lebih memilih untuk menghafal kosa kata bahasa lain dari pada harus mengandalkan suatu aplikasi atau tool. Tapi saya juga sadar bahwa ada kondisi darurat dan sebagaimana setiap manusia biasa yang punya keterbatasannya masing-masing, maka untuk surfive boleh saja menggunakan alat yang sudah tersedia apalagi gratis.

Beberapa waktu yang lalu ketika di Negeri Gajah Putih, saya mendapat pengalaman lucu yang mungkin berguna bagi anda.

Saat suatu malam di kota Bangkok, saya pernah jalan-jalan dengan seorang teman saya untuk mengamati kehidupan sosial masyarakat lokal disana. Berbeda dengan turis yang biasanya ke tempat wisata, saya memang ingin mengenal bagaimana keseharian masyarakat disana. Kami saat itu memang sengaja memilih jalan masuk ke gang atau kampung agar dapat membaur dengan masyarakat.

Setelah lama berjalan di wilayah pemukiman penduduk, tibalah kami di area pinggir sungai yang diterangi dengan lampu-lampu rumah penduduk dan beberapa lampu yang sengaja dipasang dipinggir sungai. 

Berbeda dengan kebiasaan di negeri kita ini dimana masyarakat melakukan mobilisasi lebih banyak melalui jalan darat, sedangkan disana masyarakat Bangkok masih banyak yang mengandalkan moda transportasi  air lewat sungai.

Saat itu kami tertarik dengan sebuah warung ditepi sungai yang ramai sekali dikunjungi muda mudi. Kami langsung berfikir kalau itu adalah cafe yang menyediakan minuman dan makanan kecil yang banyak dinikmati masyarakat umum, maka kamipun bergegas kesana.

Sampai diwarung tersebut kami memperhatikan ternyata ada menu kopi dan beberapa makanan yang kami tidak paham bagaimana itu yang ditulis daftar menu. Kami sengaja mencoba berinteraksi dengan pelayan menggunakan bahasa Inggris.

Lucunya ternyata pelayan tersebut malah gak paham, maka dengan bahasa isyarat yaitu tinggal tunjuk menu dan acungan jari tanda jumlah pesanan, syukurlah mereka akhirnya dapat mengerti maksud kami. Sampai disitu saya dan teman saya mencari tempat duduk dan bercakap-cakap mengenai perjalanan kami dan tujuan berikutnya.

Saat pesanan kami datang, pelayanan yang mendengar percakapan kami agaknya mengerti dengan apa yang kami bicarakan. Saya cukup kaget karena kami maksudnya saya dan teman saya saat itu bercakap dengan bahasa Indonesia. Saya mencoba interaksi kembali dengan pelayan tersebut menggunakan bahasa Indonesia, dan ternyata dia dan teman-temannya malah lebih paham. 

Walhasil kamipun berbincang sejenak dimana ternyata mereka adalah orang-orang dari Thailand bagian selatan sehingga banyak yang menggunakan bahasa melayu sebagai bahasa keseharian. Mereka banyak merantau ke Bangkok untuk mencari peruntungan. Maka tidak heran apabila banyak yang lebih mengerti bahasa Indonesia daripada bahasa Inggris disana.

Kamipun dipersilahkan menikmati sajian minum kopi dan teh. Padahal sebenarnya kami pesan kopi saja diwarung tersebut, tapi ternyata cara minum kopi diwarung itu kebiasaanya juga ditemani dengan teh tanpa gula. Karena memang penyajiannya pesan kopi diberi lengkap dengan teh dan tatacaranya disana demikian maka kami ikuti saja.

Minum secangkir kopi disana ternyata gak ada manis-manisnya sama sekali, kalah dengan air mineral di Indonesia yang terkenal "ada manis-manisnya". Untuk menawarkan rasa pahit itu ternyata caranya minum sedikit teh dengan gelas kecil seukuran sloki. Cara unik ini ternyata membuat rasa minum kopi disana menjadi lebih nikmat.

Setelah puas ngopi dan berbicang kamipun membayar dan bermaksud segera balik kembali ke Hotel tempat kami menginap karena memang sudah lepas tengah malam. Nah disinilah terjadi kejadian yang lebih unik lagi akan terjadi. 

Saat kami kembali ke Hotel ternyata pintu utama penginapan tersebut sudah ditutup dan lampu telah dipadamkan sebagian. Untuk masuk hotel kami harus masuk melalui pintu samping dan lorong yang melewati ruang sekuriti.

Oleh seorang sekuriti, ternyata kami tidak diperbolehkan masuk tanpa menunjukkan bukti sebagai tamu hotel. Kami memang masing-masing kebetulan tidak membawa kunci hotel atau apapun yang dapat menunjukkan bahwa kami adalah tamu hotel itu. 

Sekedar info kalau saya dan teman saya tersebut tidak sekamar dan masing-masing ada teman lain yang sudah istirahat duluan dikamar. Jadi kami tidak ingin mengganggu teman kami yang sudah bobo buat repot-repot bantu kami agar bisa masuk hotel ditengah malam.

Kami pun mencoba menjelaskan sebisa kami dengan bahasa Inggris, seperti kejadian di warung tadi ternyata sekuriti juga gak paham, kemudian kami coba pakai bahasa Indonesia ternyata dia juga gak paham, maka kami dibawa kebagian resepsionis. Kami mencoba menjelaskan bahwa kami adalah tamu dengan nomor kamar masing-masing.

Di meja resepsionis kami bertemu dengan seorang cewek yang sepertinya sedang sibuk sekali menghitung sesuatu, entah apa itu dalam bukunya. Kami mencoba menjelaskan padanya dengan pelan-pelan mungkin saja mereka gak paham karena kami ngomongnya kecepetan. Walaupun sebenarnya endingnya tetap saja gak paham.

Untungnya setelah panjang lebar gak ada hasil, pada akhirnya teman saya berinisiatif untuk mentranslate bahasa Indonesia ke bahasa Thai dengan Google Translate.

google translate bahasa Indonesia ke bahasa thailand
ilustrasi translate bahasa, saat itu yang kami tulis tentu lebih menarik

Awalnya saya pesimis dengan cara yang dilakukan oleh teman saya, tapi gak ada salahnya juga dicoba. Dan setelah ditulis lalu diterjemahkan melalui Google translate, kemudian muncul aksara mirip tulisan huruf Jawa yang "mlungker-mlungker" itu.

Saat teman saya menunjukkan tulisan itu ke resepsionis, sang cewek itupun tidak langsung bereaksi kecuali cuma senyum beberapa detik. Nah saat dia senyum saya dan teman saya gak sadar kalau sebenarnya juga ikutan senyum. 

Tapi sebentar.. saya dan teman saya kok jadi baper, apa mungkin kalimat yang ditranslate artinya jadi lain?

Beberapa saat kemudian sang resepsionis pun memberi kami ijin untuk pergi menuju kamar ditemani dengan sekuriti tadi. Syukurlah dan akhirnya kamipun diantar sampai depan kamar.

Saya jadi mikir, ternyata bahasa Inggris yang saya kira bisa kami andalkan dibelahan dunia manapun sebagai bahasa internasional, ternyata gak laku di Thailand. Syukur Alhamdulillah Tuhan masih menolong lewat Google Translate. Kan gak lucu juga kalau pesan kamar lagi, sedangkan barang-barang kami sudah ada didalam kamar lain.

Ternyata Memang Harus Kembali

Udara masih terasa sejuk saat mobil yang saya kendarai melintasi jalan berkelok di hutan perbatasan wilayah bekas kerajaan Majapahit menuju wilayah berjulukan kota Soto. Iya hari itu saya akan mengurus mutasi kendaraan dari kota tersebut untuk dipindah ke kota tempat tinggal saya. 

Menyusuri jalanan hutan membuat saya jadi teringat saat dulu masih kerja di kota wali dimana setiap minggu saya selalu pulang ke kota Tahu, tempat Ibu membesarkan saya. Dimana saya rutin berangkat kerja mengendarai motor di awal pekan dan setiap akhir pekan kembali melintasi hutan Dawar Blandong hingga sampai hanya buat bermalam dua hari dirumah.

Kini saya tidak lagi harus tergesa-gesa seperti dulu jadi saya nikmati saja pemandangan dan kelok jalan bersama adik dan ibu yang turut menemani perjalanan saya kali ini. Syukur rasanya dapat berangkat pagi jadi bisa menikmati hangatnya sinar matahari pagi yang baru menyembul diantara padatnya daun-daun pepohonan.

Jalan di hutan

Jalanan terasa masih lengang walaupun beberapa kali saya harus menyalip truk dan kendaran lain yang berjalan pelan. Tetapi saat sudah akan sampai memasuki wilayah kota ditandai dengan adanya gapura selamat datang memasuki kota maka jalanan terasa padat dan merayap.

Saya yang sejak tahun 2009-an tidak lagi pernah sampai ke kota ini merasa pangling. Beberapa kali saya harus bertanya kepada adik yang sedang menyalakan Aplikasi Google Map untuk meyakinkan supaya tidak salah mengambil arah.

Tidak seperti yang saya duga, dimana akan langsung dapat menuju tujuan yakni kantor Samsat dengan arah lurus saja, tapi ternyata saat hari itu ada pengalihan jalur. Lalu lintas dari arah selatan harus memutar ke arah lain dimana saya pun menurut saja, sambil tetap menggunakan petunjuk yang diarahkan oleh Google.

Pembacaan jalur yang dibantu adik saya ternyata melewati jalanan beberapa sekolah dan kampus di kota itu. Saya sekilas jadi tahu bagaimana kondisi sekolah yang baru saya lalui. Lalulintas sebenarnya lancar tapi sayang jalannya rusak sehingga kendaraanpun harus berjalan pelan agar tidak mengocok perut orang-orang yang ikut menumpang.

Sampailah kami di tujuan dimana saya bingung kenapa pintu masuknya ditutup separuh sehingga mobil tidak dapat masuk. Saya pun turun dan bertanya pada beberapa tukang becak yang kebetulan mangkal disana. Ternyata ditunjukkan bahwa untuk masuk kendaraan roda empat atau lebih harus dari pintu belakang. Kemudian sayapun menuruti petunjuknya dan menemukan lokasi pintu yang saya maksud.

Singkat cerita saya pun mengurus administrasi untuk proses mutasi keluar kendaraan. Ternyata ada suatu kejadian yang membuat saya merasa lucu. 

Saat itu saya yang sedang menunggu antrian melihat ada seorang bapak tentara yang mengisi berkas disebuah meja yang sudah disediakan. Didepan meja tersebut tersedia petunjuk pengisian formulir. 

Karena saya merasa sudah mengisi formulir tanpa melihat petunjuk itu, saya pun penasaran sebenarnya apakah tadi saya mengisi sudah sesuai dengan petunjuk yang dipasang disana. Saat saya mendekati petunjuk pengisian itu, saya pun lega sebab ternyata petunjuk formulir yang dipasang tersebut tidak seperti formulir yang saya isi. Karena petunjuk tersebut memang untuk permohonan perpanjangan STNK sedangkan saya mengurus mutasi.

Saya yang masih menunggu antrian untuk dipanggil memutuskan untuk menunggu didekat meja yang dekat dengan petunjuk pengisian formulir tadi. Bapak tentara yang tadi mengisi formulir kemudian menyerahkan berkas dengan formulir yang sudah diisi ke petugas Samsat, kemudian ikut antree didekat saya dan bertanya, "masih atree pak?"

Saya-pun menjawab singkat "iya"

Kemudian saya ganti bertanya, "mengurus STNK motor atau mobil Pak?"

Beliau menjawab dengan senyum, "Mobilnya masih di dealer, sekarang mengurus motor dulu pak".

Kami pun tertawa kecil barengan

Beliau kemudian bilang "Saya sudah dua kali kesini pak, padahal tinggalnya jauh".

Saya pun terpancing "Lho dimana tinggalnya pak?"

Beliau jawab sambil senyum "Modo"

Walaupun sebenarnya saya tidak tahu pasti lokasi yang dimaksud seberapa jauhnya dari kantor Samsat, tapi saya merasa turut prihatin saja sambil manggut-manggut. Kemudian saya kembali bertanya alasan kenapa kembali hingga dua kali.

Beliau menjawab "iya yang kemarin BPKBnya ketinggalan"

Sayapun kembali manggut-manggut tanda mengerti alasan kenapa mesti mengulang proses permohonan.

Tidak saya duga sebelumnya, ternyata orang disamping bapak tentara tadi tiba-tiba bilang "Saya juga kembali dua kali pak".

Saya dan bapak tentara tadipun segera mengalihkan perhatian kepada bapak tersebut.

Beliau meneruskan kalimatnya "Saya tadi pagi sudah mengurus pajak motor tapi lewat drive thru. Kemudian petugas memberitahu kalau saya sudah waktunya mengurus perpanjangan STNK 5 tahunan"

Dari penjelasan bapak tersebut kami pun senyum dan manggut-manggut tanda memahami alasan harus kembali. Sampai disitu akhirnya sang bapak tadi dan tentara tersebut melanjutkan obrolan, sedangkan saya sudah dipanggil untuk melanjutkan proses lainnya.

Singkat cerita akhirnya proses yang harus saya urus semua sudah selesai dan saya pun sementara bisa pulang, tapi petugas memberi tahu bahwa saya juga harus kembali 3 minggu lagi karena berkas mutasi baru bisa diserahkan setelah pengantarnya jadi dengan waktu selama itu. 

Jadi ternyata alur cerita saya pun hampir sama seperti bapak-bapak tadi, walaupun tidak mirip tapi rupanya intinya memang tetap harus kembali.

Serunya Mengajak Anak-anak Membuat Game Bersama

Sudah lebih dari dua minggu saya berada dirumah sejak kembali dari kota yang terkenal dengan Jembatan Merah Putihnya. Tetapi kenangan serunya jalan-jalan, pesta durian, kekenyangan papeda, dikejar anjing bahkan sampai pengalaman sembunyi karena ada kelompok yang sedang konflik hingga ditenangkan polisi dengan tembakan, masih teringat dengan jelas.

Apalagi keramahan Saudara yang menyenangkan dan keponakan yang tak henti-hentinya selalu penuh dengan kelucuan, membuat saya jadi pengen kembali. Kota dengan bandara Pattimuranya ini memang salah satu kota yang penuh dengan kenangan seru dan memicu kerinduan untuk suatu saat balik kesana lagi.

Sebelum saya pulang disaat-saat masih bersama-sama dengan keponakan yang kecil-kecil, banyak keseruan yang membuat saya juga ingin meninggalkan kenangan indah bagi mereka. Saya tidak ingin memberikan uang atau benda yang suatu saat mudah hilang, tapi saya ingin memberi sesuatu yang berguna dan dapat selalu mengikuti mereka terus. Salah satu caranya adalah dengan membagi pengetahuan, walau dikata cuma alasan karena gak punya uang. 

Tentu saja saya ingin mereka tetap happy tapi juga sambil belajar pengetahuan baru, maka pendekatan yang saya gunakan adalah dengan game. Namanya anak-anak jaman sekarang pasti sudah akrab dengan gadget salah satunya buat main game. Gak perlu dipungkiri lagi, karena memang jaman sekarang beda dengan jaman saya kecil dulu, dimana saya suka permainan paling canggih pada masa itu yaitu membuat pesawat, walaupun dari kertas.

Mengajak Anak-anak Membuat Game Sendiri

Saya memang gak menyalahkan anak-anak jaman sekarang yang banyak bermain game di gadget, memang mereka hidup di zaman canggihnya ponsel pintar saat ini. Tapi bukan terus di biarkan gak terkontrol, maka saya ingin mengajak mereka dengan tetap bisa bermain, bukan hanya bermain tapi juga dengan membuatnya sendiri. Iya benar membuat video game sendiri. 


Sebelum saya mengajari mereka, saya ajak dulu mereka bermain game. Kemudian ditengah keseruan mereka main, saya tawari apakah mereka juga mau membuat game seperti yang mereka mainkan? Karena tawaran saya disambut baik maka saya juga bersemangat.

Pada saat mengajak tersebut, kebetulan juga didukung dengan saudara saya selaku orang tua keponakan-keponakan saya tersebut. Jadi kesempatan ini saya coba manfaatkan dengan sebaik-baiknya.

Untuk mengajak anak mulai belajar membuat game tentu menjadi tantangan tersendiri bagi saya apalagi kebetulan keponakan-keponakan saya berada pada rentang usia dan tingkat pendidikan yang berbeda-beda. 

Tapi saya senang, saya pikir bisa sambil melakukan penelitian kecil-kecilan dengan cara perlakuan pengajaran yang sama pada perwakilan kelompok umur berbeda maka saya bisa mencari tahu mulai usia dan tingkat pendidikan bagaimana yang dapat dengan mudah diajari untuk membuat game. Ya mungkin sok-sok an saja biar kaya penelitian, jadi bahasanya diartikel ini di-keren-kerenkan.

Untuk mengajari mereka membuat game memang sudah seharusnya jauh dari kata susah. Namanya anak-anak kalau sudah susah maka bisa jadi gak tertarik lagi dan kalau dipaksa malah jadi trauma. Maka cara ngajar dan alat yang saya gunakan harusnya dapat menyenangkan. 

Oleh karena hal itu maka saya harus menggunakan cara lain bukan dengan cara yang biasa saya gunakan pada mahasiswa. Dari beberapa pertimbangan saya sebelumnya akhirnya saya memutuskan untuk mengajarkan membuat game dengan bantuan Construct 2, yang memiliki berbagai kelebihan tanpa harus melakukan coding dan bahkan dapat digunakan untuk membuat game profesional tanpa harus terlalu susah.  

Sebagai persiapan sebelum mengajari mereka, saya mulai dengan menginstall aplikasi Construct 2 ke laptop yang sudah tersedia buat sarana belajar. Setelah saya install saya mulai mengajak mereka untuk membuat karakter di game. Dilanjutkan dengan cara menggerakkan karakter, membuat karakter lain, membuat interaksi antara karakter, menerapkan aturan menang dan kalah dan seterusnya.

Ditengah proses pembuatan ada saja yang tidak sabar ingin game-nya segera jadi dan segera pengen memainkannya. Tetapi ada juga yang tiba-tiba pergi "berubah menjadi robot dan mengalahkan Si Monster guling" sekali lagi.

Singkat kata dari 4 orang keponakan yang diajak membuat game, yang bertahan terus sampai selesai ternyata tinggal satu orang keponakan hingga game bisa dimainkan. Akhirnya game pun dimainkan bersama-sama sebab yang tadinya sudah pada pergi jadi kembali lagi saat maen. 

Apapun hasilnya saya maklum saja karena memang tujuannya adalah supaya mereka tahu dulu bagaimana caranya membuat game. Jadi selain memainkan game ternyata membuatnya juga seru, meski harus sabar agar bisa sampai jadi dan bisa dimainkan.