Belajar Dari Mahluk Tak Kasat Mata

Sinar matahari cerah keemasan semburat di langit biru menyambut kita di hari ini, Syukur kepada Tuhan semoga anggota keluarga semua sehat demikian juga pembaca blog ini. 

Disaat era informasi ini..

Setiap orang tentu boleh punya pendapat sendiri, sebab biasanya seseorang akan punya sudut pandang berdasarkan latar belakang masing-masing. Sebagaimana foto yang tampak dari satu angle sangat menarik tapi bila dilihat dari sudut lainnya ternyata tidak mesti demikian. Semakin kita pandai memperluas sudut pandang, kita dapat semakin bijak dalam menakar sesuatu.

Disela kesibukan mewujudkan ide-ide yang terngiang dalam kepala, beberapa minggu terakhir ini saya sedang tertarik mengulik informasi seorang penulis cerita horor yang berdasarkan pengalaman nyata yang dia alami bersama teman-teman "huntunya" iya gak boleh disebut hantu. Anda tentu paham siapa yang saya maksud apalagi bila anda adalah seorang pembaca novel horor yang karyanya banyak diangkat menjadi film layar lebar. 

Iya penulis tersebut adalah Risa Saraswati.

Walaupun lebih muda dari saya, namun rupanya banyak pengalamannya yang harus saya catat. Banyak yang dapat saya ambil sebagai pelajaran dari pengalaman hidupnya hingga menorehkan karya-karyanya, sehingga membuat saya menjadi tertarik mengulik lebih jauh. 

teman risa peter cs
Coba tebak Risa yang mana? 
(maaf kalau gambar ini saya pakai disini)

Salah satunya tentang hal pertemanan. Berteman dengan manusia hidup saja menurut saya sudah susah,  apalagi bagaimana dengan sosok-sosok yang tak kasat mata itu. Namun, entah kenapa saya senang dengan orang-orang unik yang pandai menghargai hal yang dianggap aneh atau bagi orang normal harus dijauhi.

Maksud saya bukan kita harus berteman dengan mahluk halus, tapi yang menarik bagi saya yaitu sang penulis berhasil menaklukkan ketakutannya sehingga malah akrab dan berteman dengan mereka.

Walaupun memang awalnya dia tidak sadar kalau teman-temannya yaitu Peter Cs adalah bukan manusia "lagi". Namun pada beberapa teman lain contohnya seperti Asih, Elizabeth, Ivanna atau lainnya yang tentu akan membuat urat keberanian orang biasa akan menyusut bahkan bisa menguap habis tak tersisa, tentu itu bukan hal yang mudah buat berteman apalagi sampai membuat karya tentang mereka.

Banyak hal yang mungkin gak sesuai dengan yang kita harapkan, oleh sebab itu diperlukan rasa toleransi yang tinggi tapi juga tidak larut sehingga malah menjadi toksik.  Dibalik cerita masing-masing karakter tersebut, banyak hal juga yang saya belajar dari teman-teman Risa tersebut yang notabene gak bisa dilihat mata biasa. 

Mungkin benar bahwa kita tidak boleh percaya pada Jin atau mahluk lain sepenuhnya, bahkan kalau boleh jujur dengan sesama manusia pun kita juga harus tetap hati-hati. Tapi ada suatu pelajaran bagi saya dimana banyak hal yang tidak lagi bisa mereka lakukan ketika sudah mati. 

Walaupun mereka masih dapat melakukan sesuatu yang melebihi kita manusia hidup tetapi kemampuan mereka tidak dapat menolong mereka sehingga menjadi lebih baik. 

Jadi bagaimanapun susahnya hidup, semoga kita selalu ingat bahwa kita cuma lakon yang harus menyelesaikan "cerita" dengan bahagia. Sehingga kita musti syukuri nikmat Tuhan dan jangan pernah berputus asa.

Semoga semua yang membaca tulisan ini atau karya-karya Risa atau nonton channel Jurnal Risa dapat mengambil hikmah yang baik mumpung kita masih hidup. 

Mungkin ini sudut pandang yang dapat saya tuliskan, walaupun masih banyak nilai lainnya yang dapat saya ambil dari seorang Risa bersama Tim Jurnal Risanya tidak saya tulis disini. Salut buat mereka..

Anda juga boleh punya sudut pandang sendiri, silahkan ditulis dikolom komentar bila berkenan.

Posting Komentar