Ada Apa dengan Tempat Ini?

Hari ini sinar matahari nampak semburat mewarnai langit yang cerah bak menyambut semangat baru. Bulan Agustus atau September biasanya menjadi bulan yang menjadi awal mahasiswa baru memasuki masa orientasi kampus. Saya jadi teringat pada saat awal menjadi mahasiswa dulu dimana sangat senang karena diterima di sebuah Universitas Negeri yang terkenal dengan jurusan Kedokterannya di Surabaya. 

Saya saat itu diterima masuk di jurusan D3 kesehatan tapi tidak satu lokasi dengan kampus kedokteran. Walaupun saya bukan jurusan kedokteran, tapi karena masih satu rumpun kesehatan ternyata ada saat nantinya saya juga mencicipi kuliah di ruang kelas kedokteran. 

pelajaran dari kost

Sayangnya kegembiraan saya karena diterima ternyata tidak berlangsung lama, walaupun diterima di kampus jurusan cukup yang banyak diincar calon mahasiswa ternyata ada beberapa hal yang saat itu membuat saya cukup menjadi baper. 

Pertama masuk tentunya ada acara orientasi kampus yang menurut saya saat itu gak banyak gunanya selain cuma untuk melanggengkan tradisi senioritas. Banyak hal dalam kegiatan tersebut yang saya rasa tidak mendidik yang tetap harus saya ikuti. Untungnya masa itu sudah lewat, kabarnya sekarang tradisi ospek atau semacamnya sekarang menjadi lebih bermutu dan bermartabat.

Selain kegiatan Ospek diawal menjadi mahasiswa, saya juga cukup syok dengan perbedaan kondisi lingkungan saya tinggal dimana saat itu nge-kost dengan tempat awal saya tinggal. Awalnya saya cuma merasa sedang mengalami homesick alias kangen rumah atau bahasa kerennya "mbok-mbok en". 

Memang diawal mungkin gejalanya sama yaitu pengen pulang gak tahan ditempat baru. Kemudian menyalahkan hawa yang cenderung lebih panas, aroma air kotor dimana-mana, bahkan aroma kupang busuk yang tercium semerbak seperti sampai meresap masuk ke pakaian dalam. Tapi ternyata ada hal yang cukup kuat menjadi alasan bahwa saya bukan mengalami homesick. 

Hal tersebut salah satunya terjadi ketika saya setiap kali ketemu kakak-kakak tingkat, walaupun di jurusan yang berbeda dan lokasi kampus berbeda setiap kali saya ditanya perihal tinggal di kosan mana? ketika saya memberi jawaban jujur mereka langsung paham lokasinya. Seakan-akan kosan saya itu sudah cukup terkenal. Awalnya saya mungkin bangga, tapi setelah berkali-kali demikian dengan kakak yang lain dan respon mereka rata-rata menampilkan mimik yang aneh, membuat saya mulai penasaran ada apa dengan tempat kost yang saya tinggali. 

Selain itu teman-teman kuliah terutama yang cewek-cewek mereka sama sekali gak mau masuk ke area kost. Bahkan kalau ada perlu maka mereka rela menunggu diluar pagar kost tanpa mau masuk ke halaman. Heran..

Hingga suatu ketika saya pernah main ke tempat kost lain yang ditinggali teman saya satu kampus, kebetulan ada Ibu kostnya yang sedang menyapu kemudian menegur saya. Seperti pada umumnya awalnya Ibu kost tersebut bertanya dimana saya tinggal, kemudian setelah saya jawab Ibu kost tersebut kemudian berpesan agar saya harus tahan kalau ingin tetap tinggal di tempat kost saya dan menitip pesan untuk Ibu kost saya yang tidak pernah saya sampaikan hingga saat ini.

Saya menyadari apa yang disampaikan oleh ibu Kost teman saya tersebut memang tidak salah. Saya rasa penilaian mereka itu dapat menjawab rasa penasaran saya sebelumnya. Tapi hal itu membuat saya jadi tambah tidak nyaman.

Setelah beberapa lama saya mencoba bertahan ternyata setelah akhir semester pertama saya ingin sekali pindah kost. Disaat itu saya memutuskan untuk mencari tempat lain yang lebih baik dan kalau bisa tetap murah. Setelah beberapa kali mencari, pada akhirnya saya menemukan tempat yang saya anggap sesuai dengan kriteria saya saat itu. Saat akan benar-benar pindah ternyata ada sebuah kejadian yang membuat saya banyak pertimbangan. 

Saat itu teman sekamar kost saya memberi tahu kalau salah satu teman kost yang lain ada yang mendapat musibah. Memang saya menempati kamar kost yang diisi minimal dua orang, sedangkan ingin tempat kost baru yang hanya seorang satu kamar. Tapi itu bukan alasan utama saya ingin pindah kost.

Saya dan teman sekamar saya langsung menghapiri kamar tempat teman yang mengalami musibah. Ternyata disana sudah berkumpul banyak teman kost saya yang lain. Saya lihat teman yang mengalami musibah itu duduk tertunduk dan menangis padahal dia seorang cowok, saya tanya apa yang terjadi?. Teman saya yang lain menjawab kalau dia baru kehilangan uang saku dan bekal yang diberikan orang tuanya untuk ngekost. Mendengar jawaban tersebut lalu saya bertanya lagi ceritanya bagaimana kok bisa hilang?

Teman saya yang lain menjawab ceritanya dia berangkat ke Surabaya dari tempat asalnya yaitu kota K dengan mengendarai kereta api. Diperjalanan dia meletakkan bekal yang berupa beras yang dibungkus tas kresek  dan uang saku Rp.5000 didalamnya untuk pulang minggu depan dibawah kursi. Saat dalam perjalanan teman saya itu tertidur hingga terbangun ketika sudah sampai di stasiun tujuan. Ketika akan turun dia mencari bekalnya dan ternyata sudah tidak ada. Dia berjalan kaki untuk sampai di kost, padahal jarak stasiun kereta hingga kost tidak kurang dari 15 km.

Saat itu semua teman lain yang mendengar cerita teman saya ini langsung memberi sumbangan untuk bekal sehari-hari dan untuk ongkos pulang minggu depan. Lalu mereka berangsur kembali balik kekamar mereka masing-masing. Saat itu saya masih bertahan karena saya merasa masih ada yang janggal dengan cerita teman saya tersebut.

Saya kemudian bertanya pada teman saya itu :

apakah sampeyan cuma dibekali dengan beras saja untuk bertahan selama seminggu? 

Ternyata diluar dugaan teman saya tersebut menjawab iya, dia memang berbekal beras yang nanti akan dimasak. Untuk memasak memang ada dapur sederhana yang disediakan ibu kost. 

Trus pertanyaan saya berlanjut:

Lalu lauknya apa?

Kalau ada kerupuk ya kerupuk tapi kalau gak ada pakai garam

Saya langsung diam, jaman saya sudah kuliah masih ada yang makan cuma pakai nasi dan garam.

Saya lanjut bertanya Kenapa setiap minggu harus pulang?

Iya untuk membantu orang tua dirumah

Dari pengalaman tersebut, saya kemudian hari berikutnya memantau bagaimana kondisi teman-teman kost tersebut dan yang lain. Apakah memang keseharian mereka demikian atau memang cuma cerita saja agar teman lain iba dan membantunya. Ternyata teman kost saya tidak hanya seorang yang kondisinya mirip. Walaupun rata-rata lebih baik tapi tidak banyak.

Setelah melihat banyak teman yang mungkin kurang beruntung dari saya, maka saya menjadi merasa gak terlalu masalah dengan apa yang dikatakan orang diluar kost. Walaupun memang pada kenyataannya kost saya memang sebanding antara harga dengan fasilitas. Tempat kost tersebut ternyata memberi saya pelajaran diluar bangku kuliah.

Alhasil, saya gak jadi pindah bahkan sampai lulus.

Posting Komentar